Penebalan Dinding Rahim, Apakah Normal?

  • August 6, 2021

Dinding rahim, disebut Endometrium, adalah salah satu dari sebagian organ tubuh manusia yang dapat berubah ukuran di setiap bulan dalam masa subur seseorang.

Setiap bulan, sebagai bagian dari siklus menstruasi, tubuh mempersiapkan Endometrium untuk menampung embrio. Ketebalan endometrium fleksibel, naik-turun dalam masa-masa tersebut. 

Penebalan dinding rahim terjadi kerena hormon yang berlebihan pada wanita

Nah ada pula peran hormon estrogen dan progesteron yang mendukung siklus penebalan endometrium dan pelepasannya melalui menstruasi. 

Artinya siklus ini seharusnya wajar, tentu asalkan sesuai dengan kisaran normal ketebalan endometrium. 

Lalu, pada kasus seperti apa penebalan dinding rahim dapat dianggap normal?

Ketebalan dinding rahim yang normal

Ketebalan dinding rahim wanita terus berubah-ubah sepanjang hidupnya, mulai dari masa kanak-kanak, dewasa, masa subur, hingga setelah menopause.

Mengutip Medical News Today, ukuran dinding rahim alias endometrium wanita dalam masa subur terus berubah-ubah seiring dengan perkembangan siklus haid yang dilalui.

  • Dinding rahim paling tipis selama masa menstruasi, ketebalan sekitar 2-4 mm
  • Memasuki paruh pertama fase proliferasi, dinding rahim menebal hingga 5-7 mm
  • Menuju puncak ovulasi, dinding rahim menebal lagi hingga 11 mm
  • Dalam masa pelepasan sel telur, dinding rahim terus menebal dan mungkin mencapai 16 mm

Penebalan dinding rahim sangatlah penting untuk menunjang kehamilan. Idealnya dinding rahim tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal, dengan demikian embrio bisa bertumbuh dengan baik.

Sebelum menstruasi, endometrium akan menebal dan berfungsi sebagai wadah sel telur yang sudah dibuahi. Jika tidak sedang hamil, endometrium akan luruh dan dibuang sebagai darah menstruasi.

Mengukur ketebalan dinding rahim

Cara yang umum digunakan untuk mengukur ketebalan dinding rahim adalah dengan melakukan scan USG. Metode ini sudah cukup efektif untuk menunjukkan situasi perkembangan rahim.

Namun, ketika USG tidak bisa dilakukan, entah karena posisi uterus seseorang atau karena masalah kesehatan lainnya, dokter bisa menggunakan MRI.

Penyebab penebalan dinding rahim

Seperti yang dijelaskan di atas, penebalan dinding rahim wanita wajar terjadi dalam siklus haid. Namun, ada beberapa faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan.

Salah satu penyebab umum penebalan dinding rahim adalah kehamilan. Wanita dengan usia kehamilan kurang dari 5 pekan mungkin menunjukkan tanda-tanda penebalan dinding rahim.

Selain itu, ada beberapa faktor lain yang mungkin dapat menyebabkan dinding rahim menebal, di antaranya:

  • Obesitas
  • Hormone replacement therapy (HRT)
  • Konsumsi Tamoxifen
  • Tekanan darah tinggi
  • Polip Endometrium
  • Hiperplasia endometrium
  • Diabetes

Hiperplasia endometrium adalah istilah ketika dinding rahim sudah terlalu tebal. Kondisi ini umumnya disebabkan karena level estrogen yang berlebihan dan progesterone yang kurang.

Gejala

Tanda-tanda yang paling umum dari masalah penebalan dinding rahim meliputi:

  • Pendarahan setelah menopause
  • Pendarahan yang ekstrem dan berlangsung lama dalam masa menstruasi
  • Siklus menstruasi tidak teratur, bisa berjalan kurang dari 3 minggu atau lebih dari 38 hari
  • Ada bercak di antara menstruasi

Kapan harus ke dokter?

Sebaiknya Anda segera ke dokter jika menyadari pendarahan vaginal yang tidak normal, mungkin termasuk:

  • Bercak di antara menstruasi
  • Darah menstruasi yang terlalu banyak, tidak wajar
  • Darah menstruasi yang terlalu sedikit, tidak biasa

Demikian informasi mengenai kasus penebalan dinding rahim dan kapan Anda harus berkonsultasi ke dokter.

Tanda Keputihan Normal dan Tidak Normal

Tanda Keputihan Normal dan Tidak Normal

  • July 22, 2021

Vagina merupakan sebuah ekosistem organ yang telah dirancang dengan baik. Organ ini memiliki caranya sendiri untuk menyeimbangkan bakteri, pH, serta kelembaban. Sayangnya, jika tidak dirawat dengan benar, penyakit yang berhubungan dengan vagina dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius. Seperti apa ciri keputihan normal yang tidak mengindikasikan penyakit?

Vagina sebenarnya memiliki cara untuk membersihkan dirinya, yaitu dengan mengeluarkan cairan keputihan. Keputihan merupakan kondisi normal yang dialami setiap wanita. Kondisi ini bukan hanya untuk membersihkan bagian dalam vagina, tetapi juga menjaga kelembapan daerah kewanitaan. Adanya keputihan juga dapat melindungi vagina dari risiko infeksi dan penyakit serius lainnya. 

Namun, terkadang, keputihan juga dapat disebabkan oleh infeksi atau penyakit tertentu. Keputihan tidak normal tentu memiliki ciri yang berbeda keputihan normal. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui karakteristik dari keputihan normal maupun tidak normal agar dapat melakukan tindakan medis bila dirasa perlu. 

Perlu dicatat bahwa setiap bulannya wanita mengalami keputihan sebagai bagian dari siklus menstruasi. Volume, warna, dan konsistensinya pun dapat berbeda-beda tergantung dari waktu keluarnya keputihan tersebut. Meskipun berbeda, keputihan normal biasanya tidak memiliki bau menyengat atau warna yang tajam. Berikut ciri-ciri lebih lanjut keputihan normal.

Ciri-Ciri Keputihan Normal

Warna dan konsistensi keputihan 

Keputihan normal biasanya akan berubah seiring dengan produksi cairan serviks dalam vagina. Pada awal siklus, teksturnya cenderung kering dan lengket, beberapa orang bahkan tidak melihat keluarnya cairan dari vagina. Kemudian, pada fase awal menstruasi, keputihan akan berubah memiliki konsistensi yang lembut.

Setelah itu, tepat sebelum dan sekitar masa ovulasi, teksturnya mungkin akan menjadi mirip dengan putih telur yang melar, basah, dan transparan. Tak lama setelah masa ovulasi selesai, keputihan normal biasanya berubah kembali menjadi kering atau lengket. 

Volume keputihan 

Kebanyakan orang yang akan melihat volume keputihan akan meningkat selama fase pertama siklus menstruasi. Cairan ini paling banyak diproduksi sebelum dan memasuki masa ovulasi, dan berlangsung hingga hari terakhir siklus ovulasi. Beberapa orang juga akan melihat vagina akan menghasilkan lebih banyak cairan saat tubuh terangsang.

Bau dan aroma

Keputihan normal bisa tidak berbau atau berbau. Jika keputihan mengeluarkan bau pun, seharusnya ringan dan masih dapat diterima. Keputihan juga terkadang bercampur dengan air seni atau darah saat menstruasi yang dapat memengaruhi baunya di pakaian dalam. Mengenal bau khas keputihan sangat penting untuk mengidentifikasi bila terjadi perubahan.

Keputihan yang normal biasanya muncul saat adanya perubahan kadar hormon di tubuh. Hormon yang memicu munculnya keputihan adalah hormon progesteron dan estrogen. Saat hormon progesteron mendominasi, lendir keputihan yang muncul akan berwarna putih atau sedikit keruh. Selain dapat menyebabkan keputihan, perubahan hormon juga dapat menjadi tanda terjadinya proses ovulasi, perubahan kondisi leher rahim atau serviks, hingga perubahan suasana hati.

Tidak hanya perlu memahami keputihan normal, penting pula untuk mengetahui ciri keputihan tidak normal agar Anda bisa lebih waspada mengenali gangguan penyakit yang terjadi. Beberapa ciri keputihan abnormal adalah sebagai berikut:

  • Memiliki bau tidak sedap seperti bau busuk atau amis, dan menyengat
  • Volume keputihan meningkat secara tiba-tiba
  • Berwarna kuning, kehijauan, atau keabu-abuan dengan tekstur kental. Kadang, keputihan abnormal juga memiliki tekstur yang menggumpal
  • Terkadang keluar darah dan nyeri setiap melakukan hubungan seksual atau di luar waktu menstruasi
  • Keputihan disertai dengan pendarahan atau bercak, padahal tidak sedang menstruasi
  • Vagina terasa gatal atau nyeri

Keputihan abnormal biasanya disebabkan oleh infeksi jamur, bakteri, atau menandakan adanya infeksi menular seksual. Apabila Anda mengalami keputihan abnormal, sebaiknya segera periksakan ke dokter sehingga dapat ditangani segera. Ingat, penting mengenai tanda-tanda keputihan normal yang Anda alami agar dapat terhindar dari masalah kesehatan yang berhubungan dengan vagina.